India memiliki penduduk 1,1 miliar orang. Jumlah penduduk India sedikit di bawah Cina yang mencapai 1,3 miliar orang. Gabungan dari kedua Negara ini mencapai 40 persen dari total penduduk dunia dan setengah dari penduduk Negara berkembang. Luas wilayah terbuka India mencapai 3,3 juta kilometer persegi, angkatan kerjanya 440 juta orang, angka melek huruf dewasa 57,2 persen, angka harapan hidup pada saat lahir 63 tahun, angka kematian bayi per 1000 orang kelahiran sebesar 70, lama bersekolah pada penduduk usia 25 tahun ke atas 3,6 tahun, peran sektor pertanian dalam PDB sebesar 22 persen dengan penyerapan tenaga kerjanya sebesar 60 persen dan pekerja di sektor manufaktur 22 persen (Bottelier, 2007). Melihat angka-angka ini, modal dasar (initial condition) India untuk berkembang pesat dalam pembangunan ekonomi kurang menggembirakan. Sepertinya India hanya sekedar gajah tambun, lamban dan sulit bergerak. Siapa sangka gajah tambun itu kini menggeliat menunjukkan potensinya dan mengejutkan seantero jagad.
Tiga dekade setelah merdeka, pertumbuhan ekonomi India tidak jauh dari pertumbuhan penduduknya, yang menyebabkan tingkat kesejahteraannya (pendapatan perkapita) mengalami stagnasi. Pertumbuhan ekonomi mulai membaik sejak dikenalkannya kebijakan yang pro-bisnis pertengahan tahun 1980-an. Sepanjang tahun 1980-an, pertumbuhan ekonomi India sekitar 5,5 persen pertahun, meningkat menjadi 6 persen tahun 1990-an. Pada dekade ini, ekonomi India mulai terbuka dengan dunia luar, khususnya perdagangan internasional dan penenaman modal asing. Tahun 2004-2006, pertumbuhan ekonomi India melebihi 7 persen dan diperkirakan mencapai 9 persen tahun 2007.
Meskipun secara rata-rata, India masih tertinggal dari berbagai sisi, namum India berkembang dengan teknologi tinggi. India dikenal sebagai pemimpin industri berbasis teknologi seperti software, jasa berbasis teknologi informasi dan industri farmasi. Disamping itu, industri lain yang berkembang di India adalah industri baja, penyulingan minyak bumi, kendaraan bermotor dan spare part.
Yang paling menonjol adalah perkembangan bidang teknologi informasi. Banyak pekerjaan-perkerjaan di Eropa dan Amerika yang terkait dengan jasa TI, justru dikerjakan di India (outsourching) melalui fasilitas internet. India menjadi back office bagi Negara-negara maju khusus pekerjaan yang terkait bidang TI. Singkatnya, India berkembang dengan dukungan teknologi tinggi.
Di dalam situs resmi pemerintah India (Government of India Directory) (http://goidirectory.nic.in/sciencefic.htm) terdapat sekitar 220 lembaga dan organisasi ilmu pengetahuan serta pusat-pusat riset. Semuanya berkonsentrasi pada ilmu-ilmu eksak dan teknologi tinggi, baik ilmu-ilmu dasar maupun terapan. Dalam situs tersebut tidak terdapat pusat-pusat riset bidang ilmu sosial. Konsentrasi pada ilmu terapan inilah yang menjadi sumber keunggulan pertumbuhan ekonomi India. India berkembang karena hasil kreasi otak manusia, bukan eksploitasi sumberdaya alam dan modal asing, seperti yang dialami oleh Cina. Pertumbuhan seperti ini sangat kokoh dan cenderung lebih permanen. Sangat mungkin, ke depan India dapat menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia.
Kaum intelektual India yang mengabdikan ilmunya di luar negeri sangat banyak. Mulai dari ilmuan di universitas-universitas terkenal, lembaga-lembaga penelitian, badan-daban internasional (seperti Bank Dunia, IMF, ADB, PBB dan badan-badan yang benaung di bawahnya) tidak luput dari personel-personel yang berkebangsaan India. Meskipun India kini mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, tapi masih banyak intelektual mereka yang berada di luar negeri. Dengan kata lain, potensi pertumbuhan mereka jauh lebih besar lagi, seandainya para perantau itu turut serta berpartisipasi untuk meningkatkan kemakmuran tanah leluhur sendiri. Jika perekonomian India sudah semakin maju dan para perantau intelektual itu melihat peluang di tanah kelahiran, maka bukan tidak mungkin mereka akan pulang kampung.
Sumber pertumbuhan India kelihatan paradoks dengan indikator-indikator sosial masyarakatnya, misalnya tingkat kemiskinan, tingkat pendidikan, tingkat kesehatan bayi, berat badan Balita yang di bawah normal, kelahiran dengan berat badan kurang, masih relative rendah di India. Oleh karena itu, tidak semua masyarakat India berpartisipasi dan menikmati pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh angka koefisien Gini dari sisi pengeluaran yang relative tinggi, yaitu 33. Kehidupan yang sulit, persaingan yang ketat di tengah jumlah penduduk yang banyak telah membentuk karakter personal masyarakat India sebagai pekerje keras, ulet, gigih, militan dan pantang menyerah.
Tantangan India
India bukanlah penghasil sumber energi. Sekitar 70 persen dari minyak mentah (crude oil) yang dibutuhkan India diimpor dari luar negeri. Ketidakstabilan harga minyak bumi dunia akan sangat mempengaruhi India. Meskipun melihat sumber-sumber pertumbuhan ekonomi India, dapat dipastikan bahwa konsumsi energi mereka jauh lebih hemat ketimbang Cina, tetapi ketergantungan energi yang tinggi terhadap luar negeri akan sangat mengganggu. Keberlanjutan pertumbuhan ekonomi merekapun sangat tergantung dari stabilitas harga dan kontinuitas pasokan energi dari luar negeri.
Startegi untuk menghadapi itu, India kini sangat aktif mencari sumber-sumber energi di berbagai Negara dan melakukan kerjasama dengan berbagai pihak. Oil and Natural Gas Commission (ONGC) India telah membeli saham ladang minyak di Syria, Iran, Vietnam, Russia, Myanmar, Angola, Libya, Sudan dan Irak. Demikian juga Gas Authority of India Limited (GAIL) telah berinvestasi dalam bentuk saham Liquified Natural Gas (LNG) di Oman dan Iran dan melanjutkan negosiasi dengan Bangladesh, Pakistan dan Iran untuk pembangunan pipa pensuplai gas secara langsung (Panda, 2007).
Dalam hal pencarian sumber-sumber energi di berbagai negara, India bersaing ketat dengan Cina untuk memperebutkan ladang-ladang minyak dan gas alam. Namun juga, tidak jarang India bekerjasama dan melakukan aliansi strategis dengan China National Petrolium Corporation (CNPC). India juga berkolaborasi dengan Rusia. Rusia diperkirakan memiliki sekitar 32 persen dari cadangan gas dunia dan sekitar 40 persen kebutuhan gas Eropa dipasok dari Rusia. India dan Rusia telah melakukan tukar guling antara pembelian senjata oleh India dan pembangunan pipa gas senilai US$10 miliar. Tidak hanya dengan Rusia, India juga bekerjasama dengan Amerika Serikat (AS) di bidang pengembangan tenaga nuklir untuk tujuan sipil. Meskipun bagi AS kerjasama ini sarat dengan tujuan politik, namun bagi India sangat membantu untuk penyediaan energi listrik dalam valume yang besar.
Group-grup lain, dimana India menjalin kerjasama untuk keamanan energinya antara lain dengan IBSA (India, Brazil dan Afrika Selatan). IBSA tergabung dalam Group Four (G-4) bersama dengan Jerman dan Jepang menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Grup lainnya yang dimasuki India adalah BRICSs yaitu Brasil, Rusia, India dan Cina. Semua itu demi masa depan kontinuitas pasokan energi ke India.
Bahan Bacaan
Panda, Snehalata, 2006, Global Energy and Alliances: Challenges for India, India Quarterly, Vol. LXII No. 4 October – December.
Bottelier, Pieter, 2007, What India Can Learn from China and Vice Versa, China & World Economy, Vol. 15, No. 3.
Situs resmi Pemerintah India, 2008, Government of India Directory (http://goidirectory.nic.in/sciencefic.htm).
Tiga dekade setelah merdeka, pertumbuhan ekonomi India tidak jauh dari pertumbuhan penduduknya, yang menyebabkan tingkat kesejahteraannya (pendapatan perkapita) mengalami stagnasi. Pertumbuhan ekonomi mulai membaik sejak dikenalkannya kebijakan yang pro-bisnis pertengahan tahun 1980-an. Sepanjang tahun 1980-an, pertumbuhan ekonomi India sekitar 5,5 persen pertahun, meningkat menjadi 6 persen tahun 1990-an. Pada dekade ini, ekonomi India mulai terbuka dengan dunia luar, khususnya perdagangan internasional dan penenaman modal asing. Tahun 2004-2006, pertumbuhan ekonomi India melebihi 7 persen dan diperkirakan mencapai 9 persen tahun 2007.
Meskipun secara rata-rata, India masih tertinggal dari berbagai sisi, namum India berkembang dengan teknologi tinggi. India dikenal sebagai pemimpin industri berbasis teknologi seperti software, jasa berbasis teknologi informasi dan industri farmasi. Disamping itu, industri lain yang berkembang di India adalah industri baja, penyulingan minyak bumi, kendaraan bermotor dan spare part.
Yang paling menonjol adalah perkembangan bidang teknologi informasi. Banyak pekerjaan-perkerjaan di Eropa dan Amerika yang terkait dengan jasa TI, justru dikerjakan di India (outsourching) melalui fasilitas internet. India menjadi back office bagi Negara-negara maju khusus pekerjaan yang terkait bidang TI. Singkatnya, India berkembang dengan dukungan teknologi tinggi.
Di dalam situs resmi pemerintah India (Government of India Directory) (http://goidirectory.nic.in/sciencefic.htm) terdapat sekitar 220 lembaga dan organisasi ilmu pengetahuan serta pusat-pusat riset. Semuanya berkonsentrasi pada ilmu-ilmu eksak dan teknologi tinggi, baik ilmu-ilmu dasar maupun terapan. Dalam situs tersebut tidak terdapat pusat-pusat riset bidang ilmu sosial. Konsentrasi pada ilmu terapan inilah yang menjadi sumber keunggulan pertumbuhan ekonomi India. India berkembang karena hasil kreasi otak manusia, bukan eksploitasi sumberdaya alam dan modal asing, seperti yang dialami oleh Cina. Pertumbuhan seperti ini sangat kokoh dan cenderung lebih permanen. Sangat mungkin, ke depan India dapat menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia.
Kaum intelektual India yang mengabdikan ilmunya di luar negeri sangat banyak. Mulai dari ilmuan di universitas-universitas terkenal, lembaga-lembaga penelitian, badan-daban internasional (seperti Bank Dunia, IMF, ADB, PBB dan badan-badan yang benaung di bawahnya) tidak luput dari personel-personel yang berkebangsaan India. Meskipun India kini mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, tapi masih banyak intelektual mereka yang berada di luar negeri. Dengan kata lain, potensi pertumbuhan mereka jauh lebih besar lagi, seandainya para perantau itu turut serta berpartisipasi untuk meningkatkan kemakmuran tanah leluhur sendiri. Jika perekonomian India sudah semakin maju dan para perantau intelektual itu melihat peluang di tanah kelahiran, maka bukan tidak mungkin mereka akan pulang kampung.
Sumber pertumbuhan India kelihatan paradoks dengan indikator-indikator sosial masyarakatnya, misalnya tingkat kemiskinan, tingkat pendidikan, tingkat kesehatan bayi, berat badan Balita yang di bawah normal, kelahiran dengan berat badan kurang, masih relative rendah di India. Oleh karena itu, tidak semua masyarakat India berpartisipasi dan menikmati pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh angka koefisien Gini dari sisi pengeluaran yang relative tinggi, yaitu 33. Kehidupan yang sulit, persaingan yang ketat di tengah jumlah penduduk yang banyak telah membentuk karakter personal masyarakat India sebagai pekerje keras, ulet, gigih, militan dan pantang menyerah.
Tantangan India
India bukanlah penghasil sumber energi. Sekitar 70 persen dari minyak mentah (crude oil) yang dibutuhkan India diimpor dari luar negeri. Ketidakstabilan harga minyak bumi dunia akan sangat mempengaruhi India. Meskipun melihat sumber-sumber pertumbuhan ekonomi India, dapat dipastikan bahwa konsumsi energi mereka jauh lebih hemat ketimbang Cina, tetapi ketergantungan energi yang tinggi terhadap luar negeri akan sangat mengganggu. Keberlanjutan pertumbuhan ekonomi merekapun sangat tergantung dari stabilitas harga dan kontinuitas pasokan energi dari luar negeri.
Startegi untuk menghadapi itu, India kini sangat aktif mencari sumber-sumber energi di berbagai Negara dan melakukan kerjasama dengan berbagai pihak. Oil and Natural Gas Commission (ONGC) India telah membeli saham ladang minyak di Syria, Iran, Vietnam, Russia, Myanmar, Angola, Libya, Sudan dan Irak. Demikian juga Gas Authority of India Limited (GAIL) telah berinvestasi dalam bentuk saham Liquified Natural Gas (LNG) di Oman dan Iran dan melanjutkan negosiasi dengan Bangladesh, Pakistan dan Iran untuk pembangunan pipa pensuplai gas secara langsung (Panda, 2007).
Dalam hal pencarian sumber-sumber energi di berbagai negara, India bersaing ketat dengan Cina untuk memperebutkan ladang-ladang minyak dan gas alam. Namun juga, tidak jarang India bekerjasama dan melakukan aliansi strategis dengan China National Petrolium Corporation (CNPC). India juga berkolaborasi dengan Rusia. Rusia diperkirakan memiliki sekitar 32 persen dari cadangan gas dunia dan sekitar 40 persen kebutuhan gas Eropa dipasok dari Rusia. India dan Rusia telah melakukan tukar guling antara pembelian senjata oleh India dan pembangunan pipa gas senilai US$10 miliar. Tidak hanya dengan Rusia, India juga bekerjasama dengan Amerika Serikat (AS) di bidang pengembangan tenaga nuklir untuk tujuan sipil. Meskipun bagi AS kerjasama ini sarat dengan tujuan politik, namun bagi India sangat membantu untuk penyediaan energi listrik dalam valume yang besar.
Group-grup lain, dimana India menjalin kerjasama untuk keamanan energinya antara lain dengan IBSA (India, Brazil dan Afrika Selatan). IBSA tergabung dalam Group Four (G-4) bersama dengan Jerman dan Jepang menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Grup lainnya yang dimasuki India adalah BRICSs yaitu Brasil, Rusia, India dan Cina. Semua itu demi masa depan kontinuitas pasokan energi ke India.
Bahan Bacaan
Panda, Snehalata, 2006, Global Energy and Alliances: Challenges for India, India Quarterly, Vol. LXII No. 4 October – December.
Bottelier, Pieter, 2007, What India Can Learn from China and Vice Versa, China & World Economy, Vol. 15, No. 3.
Situs resmi Pemerintah India, 2008, Government of India Directory (http://goidirectory.nic.in/sciencefic.htm).