Kamis, 24 April 2008

SARJANA MENGANGGUR, SALAH SIAPA? (Oleh: Hamsar Lubis)

Jumlah tenaga kerja sarjana di Indonesia masih relatif kecil dari jumlah penduduk. Persentase penduduk yang pernah mengecap perguruan tinggi hanya sekitar 5,5 persen dari jumlah angkatan kerja. Sebagai negara berkembang, seharusnya tenaga mereka sangat dibutuhkan untuk mengisi pembangunan. Diharapkan mereka menjadi inventor, innovator dan pencipta lapangan kerja serta menjadi penggerak roda perekonomian.

Namun demikian, pengangguran tingkat sarjana relatif tinggi. Ini sebuah ironi. Data Sakernas (Survey Angkatan Kerja Nasional, BPS) per Februari 2007 menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka dari kalangan perguruan tinggi mencapai 740.206 orang atau setara dengan 7,02 persen dari angkatan kerja tahun 2007. Tingkat pengangguran tenaga terdidik sedikit lebih rendah dari tingkat pengangguran secara nasional yang mencapai 11,8 persen. Pada Bulan Agustus 2006, tingkat pengangguran kalangan terdidik hanya 6,16 persen. Itu berarti dalam setahun terakhir, pengangguran terdidik bertambah sebanyak 66.578 orang. Setiap tahun, antrian pengannguran semakin panjang oleh sarjana yang baru lulus.

Bertambahnya pengangguran sarjana bisa menurunkan minat orangtua maupun calon mahasiswa itu sendiri untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi. Meskipun masyarakat tidak membaca angka-angka statistik pengngguran terdidik, tetapi masyarakat dapat merasakan sendiri betapa sulitnya mencari pekerjaan bagi lulusan sarjana dewasa ini. Tamat sarjana tidak menjadi jaminan apapun untuk memperoleh pekerjaan. Padahal waktu, biaya dan energi sudah terkuras dalam waktu yang relatif panjang. Sarjana yang menganggur menanggung beban mental yang sangat berat, baik bagi diri sendiri maupun keluarga.

Gejala penurunan minat melanjutkan ke pendidikan tinggi sudah dirasakan. Data menunjukkan bahwa tahun 2002, jumlah mahasiswa baru bidang Ekonomi di seluruh Kopertis Wilayah III masih mencapai sekitar 27,7 ribu orang. Tahun 2006, peminat bidang yang sama tinggal 17,3 ribu mahasiswa. Dalam waktu lima tahunan, peminat bidang Ekonomi berkurang sekitar 10 ribu orang. Jumlah mahasiswa yang kian menurun diikuti dengan jumlah PT yang semakin banyak. Di Kopertis Wilayah III, saat ini ada sekitar 90 PTS yang membuka studi Ekonomi.

Sebab-sebab

Sebab-sebab tingginya pengangguran terdidik disebabkan karena: pertama, lulusan sarjana tidak sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja. Program studi (Prodi) yang dibuka oleh berbagai PT tidak sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Banyak Prodi di PT masih diminati, padahal sebetulnya lowongan kerjanya sudah mengalami kejenuhan. Sebagai contoh, Prodi Kesehatan sudah mengalami tingkat kejenuhan sebesar 10 persen, Teknik 20 persen, MIPA 5 persen dan Pertanian 15 persen. Prodi yang paling tinggi tingkat kejenuhannya adalah Ilmu-ilmu sosial sebesar 50 per sen (Irwandi, 2008). Masyarakat atau calon mahasiswa tidak memiliki informasi yang lengkap tentang masalah ini.

Sebaiknya pemerintah menginformasikan tingkat kejenuhan masing-masing Prodi kepada masyarakat setiap tahunnya agar calon mahasiswa lebih tepat dan akurat menentukan pilihan jenjang pendidikan tinggi yang akan dipilih. Lebih baik lagi, jika pemerintah mampu membuat prediksi potensi kebutuhan tenaga kerja untuk masing-masing Prodi, paling tidak untuk jangka waktu lima tahun ke depan. Rata-rata masa studi jenjang sarjana sekitar lima tahun. Apalagi juga dilengkapi dengan potensi penghasilan yang mungkin diperoleh pada berbagai bidang pekerjaan. Informasi semacam ini akan menjembatani kesenjangan informasi antara permintaan dan penawaran tenaga kerja untuk berbagai bidang profesi.

Tanpa informasi semacam ini, permintaan dan penawaran tenaga kerja terdidik akan berkembang secara sporadis yang potensil memunculkan kelebihan suplai atau kekurangan tenaga untuk bidang-bidang tertentu. Karena kekurangan informasi tersebut, PT selalu terlambat sekitar dua tahun untuk memenuhi perubahan kebutuhan tenaga kerja oleh dunia industri.

Kedua, sebab pengangguran terdidik lainnya adalah rendahnya motivasi mahasiswa untuk menguasai ilmu pengetahuan semasa kuliah. Mayoritas mahasiswa, terutama di PTS menganggap bahwa kuliah sekedar mendapatkan selembar ijasah sebagai pengakuan. Ilmu pengetahuan yang didapatkan di bangku kuliah tidak dikuasai sepenuhnya. Sebaliknya, dunia pekerjaan benar-benar menginginkan keahlian. Secara umum, kepercayaan dunia usaha pada lulusan sarjana kian merosot.

Ketiga, PT juga mempunyai kontribusi meningkatkan pengangguran terdidik. Ada banyak PT yang kualitasnya pas-pasan dan menghasilkan sarjana dengan kualitas ala kadarnya. PT seperti ini menyediakan pendidikan berbiaya murah. Tetapi peminat PT seperti ini banyak, karena lapisan masyarakat kita yang terbesar adalah golongan menengah ke bawah. Dana calon mahasiswa terbatas dan kemampuan juga terbatas. Mereka melanjutkan ke pendidikan tinggi dengan harapan menikmati penghidupan yang lebih baik di masa datang. Namun, karena kualitas kesarjanaannya rendah, akhirnya menjadi pengangguran. Untuk lulusan perguruan tinggi yang berkualitas, alumninya tetap mudah mendapatkan lowongan pekerjaan. Namun, alumni yang berkualitas jumlahnya hanya sebagian kecil dari total sarjana.

Keempat, sebab lainnya adalah rendahnya motivasi mahasiswa untuk menguasai ilmu pengetahuan. Akses informasi, baik melalui buku, media maupun internet sekarang sudah terbuka lebar dan dapat diperoleh dengan mudah dan murah. Motivasi yang rendah, menyebabkan sumber-sumber pengetahuan itu menjadi mubazir keberadaannya. Ketertinggalan mutu pendidikan dewasa ini bukan karena keterbatasan akses sumber ilmu pengetahuan, tetapi masalah utamanya adalah motivasi yang rendah.

Kelima, rendahnya kreativitas sarjana untuk bekerja sendiri. Mayoritas sajana ingin bekerja menjadi buruh alias bekerja dengan orang lain. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin kecil minatnya untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. Inginnya menjadi PNS atau berkerja pada perusahaan yang sudah mapan. Meskipun pendidikan kewirausahaan mulai diperkenalkan di PT, namun jiwa kewirausahaan sulit diciptakan dalam jangka pendek selama di bangku kuliah. Kisah para pengusaha selalu bermula dari kebiasaan-kebiasaan sejak kecil, berkembang dengan budaya yang menunjang dalam keluarga dan dipupuk selama kuliah.

Keenam, keseragaman Prodi secara nasional. Ada kecenderungan antar PT saling meniru dalam mengembangkan Prodi yang sama di masing-masing PT. Dengan demikian, lulusan sarjana menjadi relatif homogen. PT sebaiknya mempelajari kebutuhan tenaga kerja untuk daerah sekitar, terutama yang berlokasi di daerah kabupaten dan kota. Ciri khas PT sesuai dengan jenis kegiatan ekonomi yang dominan di masing-masing daerah. Misalnya daerah pertanian, perikanan, kelautan, pegunungan, dataran rendah, perkebunan dan sebagainya. Dengan menyesuaikan kebutuhan tenaga kerja setampat, maka diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja di daerah sendiri.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah dewasa ini menggalakkan lagi pendirian Politeknik yang bekerjasama dengan Pemerintah Daerah. Dalam rangka Politeknik Batch I, kerjasama Dikti dan Pemda telah mendirikan 5 buah Politeknik di berbagai daerah. Sedangkan dalam rangka Politeknik Batch II telah didirikan 9 buah Politeknik di berbagai daerah (http://dikti.go.id).

Terbit di harian KONTAN (Bulan Maret 2008). Tulisan ini telah direvisi sedikit.

3 komentar:

QQ mengatakan...

wahh,,, bagus bgd pak postingannya,,walaupun sepertinya ironis sekali melihat data seperti itu.. mudah-mudahan teman-teman di PT, khususnya PTS mulai merubah paradigmanya, yaah saya kira dimulai dari penetapan tujuan hidup, dan jangan lupa bermimpi setinggi-tingginya, karena mimpi atau impian merupakan motivator handal dalam meraih tujuan! selagi mimpi masih gratis, bermimpilah sebanyak-banyaknya! oiya pak, menurut bapak, pencanangan iklan sekolah menengah kejuruan yang saat ini sedang digembar-gemborkan pemerintah itu sesuatu yang benar? kalo menurut saya, statement seperti itu menandakan pemerintah kita yang sudah tidak berdaya dalam menangani masalah pengangguran?! apakah dengan lulus dari sekolah kejuruan kita pasti dapat kerja? tidak! pendidikan tinggi lebih baik daripada sekolah kejuruan.. seharusnya pemerintah mencari cara bagaimana meningkatkan kualitas lulusan PT!

Unknown mengatakan...

assalamualaikum
pak,saya cuma mau menambahkan,sepertinya ad faktor lain lagi yang menyebabkan tingginya angka pengangguran di tingkat sarjana Indonesia. Benar seperti yang bapak jabarkan sebelumnya,kalau sarjana Indonesia kurang daya saingnya, dan minim keahlian, namun mengapa itu bisa terjadi?! saya pikir salah satunya karna tidak adanya atmosfer persaingan di kalangan pelajar kita. Banyak pelajar kurang memperhatikan peluang mereka dalam mendapatkan pekerjaan di masa depan,mereka kurang mempersiapkan diri mereka, sehingga apa yang seharusnya mereka terima di bangku sekolah maupun perguruan tinggi - kurang mereka perhatian, malah ada yang berpikir bahwa pendidikan hanyalah formalitas saja untuk mendapatkan suatu gelar atau totel tertentu. Jika kita bandingkan dengan negara Jepang, dimana pelajarnya amat sangat giat belajar dan menjadikan pendidikan sebagai sesuatu yang wajib-kudu-mesti-harus diperjuangkan, karena sedari kecil mereka sudah diberikan pandangan akan masa depan yang serba sulit, dimana impian tidak akan tercapai tanpa prestasi pendidikan yang memadai. Tekanan dan persaingan begitu terasa disana,tidak seperti di negara kita ini. Mungkin itu saja yang bisa saya tambahkan,kurang lebihnya saya mohon maaf. Terima kasih.....

Unknown mengatakan...

wah mungkin kl menurut saya pak...disini terkadang paradigma orang tua bahwa setelah para anak2 mereka lulus da PT mereka hrs mencari pekerjaan bukan nya mereka hrsnya menciptakan lapangan pekerjaan..mungkin itu saja pendaapt saya..